Jumat, 25 Januari 2013

Biasa

Di luar sana hujan.
Yogyakarta yang hangat, tiba-tiba dingin.

Sudah lama sekali aku tidak menemukan pelangi. Entah di langit itu, entah dimatamu. Aku mencintai tempat ini, untuk sebuah alasan. Tapi apa?
Selama apapun, kau tak juga bisa jelas melihatku. Mungkin matamu, minus berat dengan tiba-tiba jika ada aku dihadapanmu.

Bukankah terlihat, memang seakan kau yang menghindariku. Terlalu takut, terperangkan pesonaku. Jika tidak, harusnya kau berani sekadar bicara. Tidak, aku tidak berharap selembar harap. Aku ingin profesional menganalisis semuanya.

Aku percaya, ada sebuah rasa berbeda jika tiba-tiba teman lelaki yang selama ini tak kau pedulikan. Hanya sesekali sapa. Hanya sesekali cerita. Hanya beberapa kali berbagi tawa, tiba-tiba terlihat begitu meng-ingin-i mu. Aneh  kah? Risih kah?
Jujur, aku tak berharap seperti itu.
Ingin semuanya biasa saja. Ingin kau tetap nampak elegan meski ada yang suka. Aku ingin menganggapmu berlebihan, tapi menurut hematku, sebutan itu terlalu kasar untuk perempuan yang dalam keanehannya, aku pernah sesekali merindukannya.

Aku tetap tenang dalam siklusku. Tak terlalu berharap kau tiba-tiba membiasakan diri padaku.
Sore ini aku baru sadar. Tak semua rasa suka itu menyenangkan dan membuat perempuan mabuk kepayang.

Hematku, aku hanya ingin sederhana.
Mencintaimu dengan biasa
Mengagumi dari jarak yang kau tak terganggu karenanya
Menyaksikan senyumanmu yang sebenarnya biasa saja.

Aku menyebutmu, perempuan langit sore. Aku tetap butuh melihatnya, untuk memastikan kehidupan esok berjalan sebagaimana mestinya.

Tapi, aku menyukaimu dengan biasa.

Yogyakarta
@HariniMerdeka

Kamis, 24 Januari 2013

Padam

Aku mengenalnya, hampir separuh usiaku.
Aku memasukkanya dalam golongan manusia tanpa definisi. Ngawuran tapi bisa segala bidang. Menjelma apa saja, kadang pengangguran, kadang profesional, kadang menenangkan tapi lebih sering ngajak tawuran.


Namanya Dian, dalam bahasa jawa artinya lampu atau penerang. Suatu hari dia pernah bercerita, orang-orang yang didekatnya pasti akan merasa aman, karena akan mudah menemukan jalan. Dialah penerang. Aku tertawa saja. Lalu aku berfilosofi juga. Namaku Tirta, dalam bahasa jawa artinya air, penghilang rasa haus dan menyejukkan. Dia tertawa lebih keras dari yang aku bisa.
Kami terbiasa melakukan banyak hal, meski tak sering dan banyak tidak sepaham. Apa saja menjadi bisa, bukannya nyaman memang tidak harus selalu sama?

Aku memiliki apa yang tidak dia mau. Dia mengagumi siapa saja dengan kemampuan yang tidak aku punya. Bukankah sama menyebalkannya? Aku berdamai dengan ragu. Ini sebuah perjalan, yang sedikit banyak dalam 11 tahun terakhir aku dan dia sama-sama melewatinya.

Dalam suatu hari, aku melewati hari bersamanya, yang setelahnya aku tidak menginginkan perempuan itu masuk dalam daftar kehadiran orang-orang dihidupku. Sama sekali.

Sekalipun beda.
Aku laki-laki. Punya kasihan. Punya empati.
Tidak layak bagi seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang 11 tahun aku mengenal melakukan hal itu. Banyak yang tidak benar-benar aku mengenalnya, seluruh bahkan.

Bagiku Ibu, lebih dari pintu surga. Ia segala. Tetapi perempuan itu, melakukan hal yang dalam 11 tahun, aku tidak pernah berpikir sekalipun  ia tega.

Dia, Lampu dari api dan Aku, air.
Bagaimana api jika bertemu air?
Padam.


@HariniMerdeka
Malam di Yogyakarta

Rabu, 23 Januari 2013

Ulos Terakhir

Aku tidak bisa.
Dalam sepenghabisan selembar roti tawar dia menawarku tiga kali. Untuk ukuran laki-laki berusia 23, sepertinya. Berani sekali !

Sudah aku bilang, ada hal-hal yang tidak bisa ditukar dengan uang. terlebih ia ada atas nama kenangan.Tapi dia ngeyel dan ngomong lebih banyak dari yang aku sangka. Ah, terserah saja. Aku nggak butuh apa-apa untuk melanjutkan hidup, merawat nyawa yang masih ada. Hanya saja, laki-laki ini lebih lama ada didepanku, terlihat tidak lebih dari seorang perempuan, cerewet sekali.
"Maukah, menjualnya untukku? Aku bayar, sesuai kebutuhanmu"
Dia pikir aku siapa?
Murah sekali menyandingkan kepunyaanku dengan harga.
"Maukah? Bagaimana?"
"Aku memerlukannya, bukan hanya untukku tapi untuk orang banyak, untuk semua yang membutuhkan 'nya'. Tidak kah kau juga berpikir, 'ia' lebih baik jika ditanganku"
Laki-laki ini, kalau ngomong perlu dihajar tata bahasanya. Sekali ini aku jengah dengan mulutnya yang tak berhenti semenjak tadi.
"Aku tidak akan melepas 'nya' dengan alasan apapun" tegasku.
"Aku akan menukarnya dengan apapun yang kamu perlu"
Beku. Aku tidak ingin banyak bicara dengan laki-laki tak bernama. Laki-laki entah siapa yang baru berusia selembar roti tawar aku mengenalnya. Menginginkan hal yang tidak akan pernah bisa untuknya. Benda ini ya hanya benda, tapi hak untuk menjaganya adalah prinsip.
Laki-laki itu pergi.

Suatu senja. Entah siapa dan dimana. Aku telah melupakan segala.
"Ini ulos terakhir milik kami. Ambil, ini untukmu. Satu-satunya yang aku punya" Dalam gamang, aku masih mengerjap menebak siapa laki-laki itu.
Sejak itu. Aku hanya ingin jadi perempuan. Mampu menjaga apa yang ia punya, entah milik siapa. Seberat apapun beban hidup yang akan hilang karena melepaskannya.

Ya. Aku hanya ingin jadi Perempuan.


Siang di Yogyakarta. @HariniMerdeka