Aku mengenalnya, hampir separuh usiaku.
Aku memasukkanya dalam golongan manusia tanpa definisi. Ngawuran tapi bisa segala bidang. Menjelma apa saja, kadang pengangguran, kadang profesional, kadang menenangkan tapi lebih sering ngajak tawuran.
Namanya Dian, dalam bahasa jawa artinya lampu atau penerang. Suatu hari dia pernah bercerita, orang-orang yang didekatnya pasti akan merasa aman, karena akan mudah menemukan jalan. Dialah penerang. Aku tertawa saja. Lalu aku berfilosofi juga. Namaku Tirta, dalam bahasa jawa artinya air, penghilang rasa haus dan menyejukkan. Dia tertawa lebih keras dari yang aku bisa.
Kami terbiasa melakukan banyak hal, meski tak sering dan banyak tidak sepaham. Apa saja menjadi bisa, bukannya nyaman memang tidak harus selalu sama?
Aku memiliki apa yang tidak dia mau. Dia mengagumi siapa saja dengan kemampuan yang tidak aku punya. Bukankah sama menyebalkannya? Aku berdamai dengan ragu. Ini sebuah perjalan, yang sedikit banyak dalam 11 tahun terakhir aku dan dia sama-sama melewatinya.
Dalam suatu hari, aku melewati hari bersamanya, yang setelahnya aku tidak menginginkan perempuan itu masuk dalam daftar kehadiran orang-orang dihidupku. Sama sekali.
Sekalipun beda.
Aku laki-laki. Punya kasihan. Punya empati.
Tidak layak bagi seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang 11 tahun aku mengenal melakukan hal itu. Banyak yang tidak benar-benar aku mengenalnya, seluruh bahkan.
Bagiku Ibu, lebih dari pintu surga. Ia segala. Tetapi perempuan itu, melakukan hal yang dalam 11 tahun, aku tidak pernah berpikir sekalipun ia tega.
Dia, Lampu dari api dan Aku, air.
Bagaimana api jika bertemu air?
Padam.
@HariniMerdeka
Malam di Yogyakarta
Aku memasukkanya dalam golongan manusia tanpa definisi. Ngawuran tapi bisa segala bidang. Menjelma apa saja, kadang pengangguran, kadang profesional, kadang menenangkan tapi lebih sering ngajak tawuran.
Namanya Dian, dalam bahasa jawa artinya lampu atau penerang. Suatu hari dia pernah bercerita, orang-orang yang didekatnya pasti akan merasa aman, karena akan mudah menemukan jalan. Dialah penerang. Aku tertawa saja. Lalu aku berfilosofi juga. Namaku Tirta, dalam bahasa jawa artinya air, penghilang rasa haus dan menyejukkan. Dia tertawa lebih keras dari yang aku bisa.
Kami terbiasa melakukan banyak hal, meski tak sering dan banyak tidak sepaham. Apa saja menjadi bisa, bukannya nyaman memang tidak harus selalu sama?
Aku memiliki apa yang tidak dia mau. Dia mengagumi siapa saja dengan kemampuan yang tidak aku punya. Bukankah sama menyebalkannya? Aku berdamai dengan ragu. Ini sebuah perjalan, yang sedikit banyak dalam 11 tahun terakhir aku dan dia sama-sama melewatinya.
Dalam suatu hari, aku melewati hari bersamanya, yang setelahnya aku tidak menginginkan perempuan itu masuk dalam daftar kehadiran orang-orang dihidupku. Sama sekali.
Sekalipun beda.
Aku laki-laki. Punya kasihan. Punya empati.
Tidak layak bagi seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang 11 tahun aku mengenal melakukan hal itu. Banyak yang tidak benar-benar aku mengenalnya, seluruh bahkan.
Bagiku Ibu, lebih dari pintu surga. Ia segala. Tetapi perempuan itu, melakukan hal yang dalam 11 tahun, aku tidak pernah berpikir sekalipun ia tega.
Dia, Lampu dari api dan Aku, air.
Bagaimana api jika bertemu air?
Padam.
@HariniMerdeka
Malam di Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar