Kamis, 07 Februari 2013

:P

Aku belum siap untuk sebuah kehilangan.

Aku memang harus mempersiapkan. Aku tau, sebentar lagi memang, tapi kan tidak untuk saat ini? Keharusan perpisahan yang kita rencanakan September nanti, kenapa harus diburu jadi saat ini? Aku hanya tiba-tiba merasa kehilangan banyak hal, meski kau tetap ada disini.

Satu atap sejak 2 tahun lalu, meski hanya dipisah selembar tembok. Ah, tetap saja bagiku kau dekat, dalam dekap tahajud, malam-malam yang gigil.
Aku ingin menangis, sekadar kau tau, sekadar berharap dalam waktu yang memungkinkan kita dekat, janganlah menjauh.

Andai aku ada diposisimu, aku akan lebih memilihmu dari banyak kemungkinan yang lain. Aku akan mengutamakanmu, sebagai pilihan terbaik yang tak pernah menawarkan opsi lain. Setelah waktu berlalu, setelah rasa ini tidak pernah muncul lagi, aku benar-benar merasa seperti awal lalu, aku jatuh hati kembali, kepada laki-laki berparas dan berakhlak terbaik yang pernah aku temui.

Aku akan datang kepadamu, dalam keadaan terbaik yang aku miliki. Dalam proses terbaik yang menjembatani kebersamaan kita nanti.

Rasanya baru kemarin, aku merasa halal mencium tanganmu, melihat dalam jarak dekat keringat kerja kerasmu, membersamai upayamu yang tak selalu ringan bagi seorang perempuan, merajam rasa malu sampai habis tak tersisa.

Untuk laki-laki yang telah mengkhitbahku,
untuk untain taujih dan kesabaran yang tak pernah henti,
untuk kasih yang selalu kau bagi,
untuk segala kekonyolan yang kita miliki.
Terimakasih telah memilihku, dan malam ini, entah untuk ke berapa kali, aku jatuh hati lagi, kepadamu.

Jumat, 25 Januari 2013

Pagi

Aku ingin bercerita tentang pagi, yang mimpi tentangnya aku tepis berkali-kali.

Aku lupa seperti apa rasanya pagi. Aku lupa dingin shubuh. Aku lupa gigil yang berkeruh. Intinya aku lupa pada pagi nan rapi.
Pagi yang tak ada kehidupan, kecuali pada segelintir orang yang masih mengeja nama Tuhan. Aku rindu ternyata. Pada hal yang sebentar saja aku kenal. Pagi beraroma perawan.

Aku tidak ingat berapa kali seperti ini. Aku sedang mengulang jatuh hati pada lelaki yang sama, setiap hari. Laki-laki yang menawan ketika berkumandang adzan. Ya. Di surau kecil itu, suaranya lantang mengundang orang menghadap Tuhan.

Aku deskripsikan sedikit. Ia tidak terlalu tampan, tapi enak dilihat. Langkahnya cepat. Sandalnya selalu sama. Pakai sarung lurik cokelat, baju koko putih dan kopiah hitam. Senyumnya khas, simetris dan ada jeda. Kumis tipi dan jenggot rapi. Kata tetanggaku, dia masuk dalam kategori anatomi laki-laki shalih. Iyakah? Lantas shalih itu yang seperti apa?

Aku menduga laki-laki shalih itu yang setiap hari berkumandang adzan. Tapi tidak juga, aku mendapati muadzin sedang ngomel ketika microfon mushola tiba-tiba mati. Ibuku bilang laki-laki shalih itu tidak merokok, karena merokok meracuni gen yang berarti membodohi keturunan, Ibuku memang guru Biologi yang saklek. Tapi tidak juga, aku mendapati tukang kwetiaw perokok itu memberikan selembar uang seribu kepada ibu tua peminta-minta, "Ini seharga sebatang rokok" katanya sambil menunggu pembeli pertama. Kata teman perempuanku, laki-laki shalih itu yang menyayangi dan menghormati Ibunya. Tapi tidak juga, aku tau kakak tingkatku yang begitu mencintai Ibunya lahir batin itu pernah menggerayangi teman seangkatannya dan ditimggalkan begitu saja, sudah rahasia publik tentang bejatnya. Bukannya mereka tetap sama-sama manusia berlabel Perempuan?

Jadi, shalih bagiku relatif. Tak ada ukuran pasti.
Tidak ada laki-laki yang shalih seluruhnya. Dia bukan malaikat yang dalam jiwa hanya ada kata "iya" pada perintah Tuhannya.

Dan ternyata, yang aku rindukan bukan Pagi.
Bukan Laki-laki.
Tapi pemilik yang menciptakan Pagi dan Laki-laki.

Tak ada yang benar-benar baik kita rindukan, kecuali Tuhan.



@HariniMerdeka
Yogyakarta

Pantas-mu

Sajak-sajak tak bertuan
Aku pungut
Di kembalikan pada hatimu
Kenapa?
Karena tempat segala yang baik
Pantas bersemayam dalam tubuhmu

Rintik hujan yang jatuh
Aku tampung
Di alirkan dalam darahmu
Kenapa?
Karena segala yang sejuk
Pantas berada dalam jiwamu

Desah-desah rindu yang hilang
Aku cari dan simpan
Di ucapkan pada pendengaranmu
Kenapa?
Karena apa-apa yang jujur
Pantas untuk memilihmu

Jejak-jejak perjalananku
Aku rekam
Di mainkan dalam ingatanmu
Kenapa?
Karena semua tentangku
Pantas untuk menemukanmu

Yogyakarta.
@HariniMerdeka

Negeri, Air, Mata.

Tanahnya kau pijak
Kau minum air yang mengalir darinya
Udaranya kau hirup tak habis-habis

Tanahnya menumbuhkan apapun yang kau minta
Kau siram batang pilihan
Kau gerus tulang orang-orang

Kau hebat
Semua menjadi bisa
Semua menjadi biasa

Sebagian orang anggapmu pahlawan
Ada yang anggap pemenang
Tak ada yang anggap pecundang, hanya sebagian

Kau terpelajar
Matamu di persembahkan bagi ilmu pengetahuan
Bagi politik yang membawa kejayaan
Hingga matamu sakit
Tak bisa bedakan uang dengan perjuangan


Negeriku lebih hebat
Menumbuhkan orang-orang dengan hati lapang
Tak akan menuntut jika ditendang
Sekadar untuk bisa makan

Ini Negeriku
Negeri milik kita sendiri
Aku mencintai
Tak
Seperti kau mencintai

@HariniMerdeka
Yogyakarta


Biasa

Di luar sana hujan.
Yogyakarta yang hangat, tiba-tiba dingin.

Sudah lama sekali aku tidak menemukan pelangi. Entah di langit itu, entah dimatamu. Aku mencintai tempat ini, untuk sebuah alasan. Tapi apa?
Selama apapun, kau tak juga bisa jelas melihatku. Mungkin matamu, minus berat dengan tiba-tiba jika ada aku dihadapanmu.

Bukankah terlihat, memang seakan kau yang menghindariku. Terlalu takut, terperangkan pesonaku. Jika tidak, harusnya kau berani sekadar bicara. Tidak, aku tidak berharap selembar harap. Aku ingin profesional menganalisis semuanya.

Aku percaya, ada sebuah rasa berbeda jika tiba-tiba teman lelaki yang selama ini tak kau pedulikan. Hanya sesekali sapa. Hanya sesekali cerita. Hanya beberapa kali berbagi tawa, tiba-tiba terlihat begitu meng-ingin-i mu. Aneh  kah? Risih kah?
Jujur, aku tak berharap seperti itu.
Ingin semuanya biasa saja. Ingin kau tetap nampak elegan meski ada yang suka. Aku ingin menganggapmu berlebihan, tapi menurut hematku, sebutan itu terlalu kasar untuk perempuan yang dalam keanehannya, aku pernah sesekali merindukannya.

Aku tetap tenang dalam siklusku. Tak terlalu berharap kau tiba-tiba membiasakan diri padaku.
Sore ini aku baru sadar. Tak semua rasa suka itu menyenangkan dan membuat perempuan mabuk kepayang.

Hematku, aku hanya ingin sederhana.
Mencintaimu dengan biasa
Mengagumi dari jarak yang kau tak terganggu karenanya
Menyaksikan senyumanmu yang sebenarnya biasa saja.

Aku menyebutmu, perempuan langit sore. Aku tetap butuh melihatnya, untuk memastikan kehidupan esok berjalan sebagaimana mestinya.

Tapi, aku menyukaimu dengan biasa.

Yogyakarta
@HariniMerdeka

Kamis, 24 Januari 2013

Padam

Aku mengenalnya, hampir separuh usiaku.
Aku memasukkanya dalam golongan manusia tanpa definisi. Ngawuran tapi bisa segala bidang. Menjelma apa saja, kadang pengangguran, kadang profesional, kadang menenangkan tapi lebih sering ngajak tawuran.


Namanya Dian, dalam bahasa jawa artinya lampu atau penerang. Suatu hari dia pernah bercerita, orang-orang yang didekatnya pasti akan merasa aman, karena akan mudah menemukan jalan. Dialah penerang. Aku tertawa saja. Lalu aku berfilosofi juga. Namaku Tirta, dalam bahasa jawa artinya air, penghilang rasa haus dan menyejukkan. Dia tertawa lebih keras dari yang aku bisa.
Kami terbiasa melakukan banyak hal, meski tak sering dan banyak tidak sepaham. Apa saja menjadi bisa, bukannya nyaman memang tidak harus selalu sama?

Aku memiliki apa yang tidak dia mau. Dia mengagumi siapa saja dengan kemampuan yang tidak aku punya. Bukankah sama menyebalkannya? Aku berdamai dengan ragu. Ini sebuah perjalan, yang sedikit banyak dalam 11 tahun terakhir aku dan dia sama-sama melewatinya.

Dalam suatu hari, aku melewati hari bersamanya, yang setelahnya aku tidak menginginkan perempuan itu masuk dalam daftar kehadiran orang-orang dihidupku. Sama sekali.

Sekalipun beda.
Aku laki-laki. Punya kasihan. Punya empati.
Tidak layak bagi seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang 11 tahun aku mengenal melakukan hal itu. Banyak yang tidak benar-benar aku mengenalnya, seluruh bahkan.

Bagiku Ibu, lebih dari pintu surga. Ia segala. Tetapi perempuan itu, melakukan hal yang dalam 11 tahun, aku tidak pernah berpikir sekalipun  ia tega.

Dia, Lampu dari api dan Aku, air.
Bagaimana api jika bertemu air?
Padam.


@HariniMerdeka
Malam di Yogyakarta

Rabu, 23 Januari 2013

Ulos Terakhir

Aku tidak bisa.
Dalam sepenghabisan selembar roti tawar dia menawarku tiga kali. Untuk ukuran laki-laki berusia 23, sepertinya. Berani sekali !

Sudah aku bilang, ada hal-hal yang tidak bisa ditukar dengan uang. terlebih ia ada atas nama kenangan.Tapi dia ngeyel dan ngomong lebih banyak dari yang aku sangka. Ah, terserah saja. Aku nggak butuh apa-apa untuk melanjutkan hidup, merawat nyawa yang masih ada. Hanya saja, laki-laki ini lebih lama ada didepanku, terlihat tidak lebih dari seorang perempuan, cerewet sekali.
"Maukah, menjualnya untukku? Aku bayar, sesuai kebutuhanmu"
Dia pikir aku siapa?
Murah sekali menyandingkan kepunyaanku dengan harga.
"Maukah? Bagaimana?"
"Aku memerlukannya, bukan hanya untukku tapi untuk orang banyak, untuk semua yang membutuhkan 'nya'. Tidak kah kau juga berpikir, 'ia' lebih baik jika ditanganku"
Laki-laki ini, kalau ngomong perlu dihajar tata bahasanya. Sekali ini aku jengah dengan mulutnya yang tak berhenti semenjak tadi.
"Aku tidak akan melepas 'nya' dengan alasan apapun" tegasku.
"Aku akan menukarnya dengan apapun yang kamu perlu"
Beku. Aku tidak ingin banyak bicara dengan laki-laki tak bernama. Laki-laki entah siapa yang baru berusia selembar roti tawar aku mengenalnya. Menginginkan hal yang tidak akan pernah bisa untuknya. Benda ini ya hanya benda, tapi hak untuk menjaganya adalah prinsip.
Laki-laki itu pergi.

Suatu senja. Entah siapa dan dimana. Aku telah melupakan segala.
"Ini ulos terakhir milik kami. Ambil, ini untukmu. Satu-satunya yang aku punya" Dalam gamang, aku masih mengerjap menebak siapa laki-laki itu.
Sejak itu. Aku hanya ingin jadi perempuan. Mampu menjaga apa yang ia punya, entah milik siapa. Seberat apapun beban hidup yang akan hilang karena melepaskannya.

Ya. Aku hanya ingin jadi Perempuan.


Siang di Yogyakarta. @HariniMerdeka