Di luar sana hujan.
Yogyakarta yang hangat, tiba-tiba dingin.
Sudah lama sekali aku tidak menemukan pelangi. Entah di langit itu, entah dimatamu. Aku mencintai tempat ini, untuk sebuah alasan. Tapi apa?
Selama apapun, kau tak juga bisa jelas melihatku. Mungkin matamu, minus berat dengan tiba-tiba jika ada aku dihadapanmu.
Bukankah terlihat, memang seakan kau yang menghindariku. Terlalu takut, terperangkan pesonaku. Jika tidak, harusnya kau berani sekadar bicara. Tidak, aku tidak berharap selembar harap. Aku ingin profesional menganalisis semuanya.
Aku percaya, ada sebuah rasa berbeda jika tiba-tiba teman lelaki yang selama ini tak kau pedulikan. Hanya sesekali sapa. Hanya sesekali cerita. Hanya beberapa kali berbagi tawa, tiba-tiba terlihat begitu meng-ingin-i mu. Aneh kah? Risih kah?
Jujur, aku tak berharap seperti itu.
Ingin semuanya biasa saja. Ingin kau tetap nampak elegan meski ada yang suka. Aku ingin menganggapmu berlebihan, tapi menurut hematku, sebutan itu terlalu kasar untuk perempuan yang dalam keanehannya, aku pernah sesekali merindukannya.
Aku tetap tenang dalam siklusku. Tak terlalu berharap kau tiba-tiba membiasakan diri padaku.
Sore ini aku baru sadar. Tak semua rasa suka itu menyenangkan dan membuat perempuan mabuk kepayang.
Hematku, aku hanya ingin sederhana.
Mencintaimu dengan biasa
Mengagumi dari jarak yang kau tak terganggu karenanya
Menyaksikan senyumanmu yang sebenarnya biasa saja.
Aku menyebutmu, perempuan langit sore. Aku tetap butuh melihatnya, untuk memastikan kehidupan esok berjalan sebagaimana mestinya.
Tapi, aku menyukaimu dengan biasa.
Yogyakarta
@HariniMerdeka
Yogyakarta yang hangat, tiba-tiba dingin.
Sudah lama sekali aku tidak menemukan pelangi. Entah di langit itu, entah dimatamu. Aku mencintai tempat ini, untuk sebuah alasan. Tapi apa?
Selama apapun, kau tak juga bisa jelas melihatku. Mungkin matamu, minus berat dengan tiba-tiba jika ada aku dihadapanmu.
Bukankah terlihat, memang seakan kau yang menghindariku. Terlalu takut, terperangkan pesonaku. Jika tidak, harusnya kau berani sekadar bicara. Tidak, aku tidak berharap selembar harap. Aku ingin profesional menganalisis semuanya.
Aku percaya, ada sebuah rasa berbeda jika tiba-tiba teman lelaki yang selama ini tak kau pedulikan. Hanya sesekali sapa. Hanya sesekali cerita. Hanya beberapa kali berbagi tawa, tiba-tiba terlihat begitu meng-ingin-i mu. Aneh kah? Risih kah?
Jujur, aku tak berharap seperti itu.
Ingin semuanya biasa saja. Ingin kau tetap nampak elegan meski ada yang suka. Aku ingin menganggapmu berlebihan, tapi menurut hematku, sebutan itu terlalu kasar untuk perempuan yang dalam keanehannya, aku pernah sesekali merindukannya.
Aku tetap tenang dalam siklusku. Tak terlalu berharap kau tiba-tiba membiasakan diri padaku.
Sore ini aku baru sadar. Tak semua rasa suka itu menyenangkan dan membuat perempuan mabuk kepayang.
Hematku, aku hanya ingin sederhana.
Mencintaimu dengan biasa
Mengagumi dari jarak yang kau tak terganggu karenanya
Menyaksikan senyumanmu yang sebenarnya biasa saja.
Aku menyebutmu, perempuan langit sore. Aku tetap butuh melihatnya, untuk memastikan kehidupan esok berjalan sebagaimana mestinya.
Tapi, aku menyukaimu dengan biasa.
Yogyakarta
@HariniMerdeka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar