Rabu, 23 Januari 2013

Ulos Terakhir

Aku tidak bisa.
Dalam sepenghabisan selembar roti tawar dia menawarku tiga kali. Untuk ukuran laki-laki berusia 23, sepertinya. Berani sekali !

Sudah aku bilang, ada hal-hal yang tidak bisa ditukar dengan uang. terlebih ia ada atas nama kenangan.Tapi dia ngeyel dan ngomong lebih banyak dari yang aku sangka. Ah, terserah saja. Aku nggak butuh apa-apa untuk melanjutkan hidup, merawat nyawa yang masih ada. Hanya saja, laki-laki ini lebih lama ada didepanku, terlihat tidak lebih dari seorang perempuan, cerewet sekali.
"Maukah, menjualnya untukku? Aku bayar, sesuai kebutuhanmu"
Dia pikir aku siapa?
Murah sekali menyandingkan kepunyaanku dengan harga.
"Maukah? Bagaimana?"
"Aku memerlukannya, bukan hanya untukku tapi untuk orang banyak, untuk semua yang membutuhkan 'nya'. Tidak kah kau juga berpikir, 'ia' lebih baik jika ditanganku"
Laki-laki ini, kalau ngomong perlu dihajar tata bahasanya. Sekali ini aku jengah dengan mulutnya yang tak berhenti semenjak tadi.
"Aku tidak akan melepas 'nya' dengan alasan apapun" tegasku.
"Aku akan menukarnya dengan apapun yang kamu perlu"
Beku. Aku tidak ingin banyak bicara dengan laki-laki tak bernama. Laki-laki entah siapa yang baru berusia selembar roti tawar aku mengenalnya. Menginginkan hal yang tidak akan pernah bisa untuknya. Benda ini ya hanya benda, tapi hak untuk menjaganya adalah prinsip.
Laki-laki itu pergi.

Suatu senja. Entah siapa dan dimana. Aku telah melupakan segala.
"Ini ulos terakhir milik kami. Ambil, ini untukmu. Satu-satunya yang aku punya" Dalam gamang, aku masih mengerjap menebak siapa laki-laki itu.
Sejak itu. Aku hanya ingin jadi perempuan. Mampu menjaga apa yang ia punya, entah milik siapa. Seberat apapun beban hidup yang akan hilang karena melepaskannya.

Ya. Aku hanya ingin jadi Perempuan.


Siang di Yogyakarta. @HariniMerdeka

Tidak ada komentar: