Jumat, 25 Januari 2013

Negeri, Air, Mata.

Tanahnya kau pijak
Kau minum air yang mengalir darinya
Udaranya kau hirup tak habis-habis

Tanahnya menumbuhkan apapun yang kau minta
Kau siram batang pilihan
Kau gerus tulang orang-orang

Kau hebat
Semua menjadi bisa
Semua menjadi biasa

Sebagian orang anggapmu pahlawan
Ada yang anggap pemenang
Tak ada yang anggap pecundang, hanya sebagian

Kau terpelajar
Matamu di persembahkan bagi ilmu pengetahuan
Bagi politik yang membawa kejayaan
Hingga matamu sakit
Tak bisa bedakan uang dengan perjuangan


Negeriku lebih hebat
Menumbuhkan orang-orang dengan hati lapang
Tak akan menuntut jika ditendang
Sekadar untuk bisa makan

Ini Negeriku
Negeri milik kita sendiri
Aku mencintai
Tak
Seperti kau mencintai

@HariniMerdeka
Yogyakarta


Biasa

Di luar sana hujan.
Yogyakarta yang hangat, tiba-tiba dingin.

Sudah lama sekali aku tidak menemukan pelangi. Entah di langit itu, entah dimatamu. Aku mencintai tempat ini, untuk sebuah alasan. Tapi apa?
Selama apapun, kau tak juga bisa jelas melihatku. Mungkin matamu, minus berat dengan tiba-tiba jika ada aku dihadapanmu.

Bukankah terlihat, memang seakan kau yang menghindariku. Terlalu takut, terperangkan pesonaku. Jika tidak, harusnya kau berani sekadar bicara. Tidak, aku tidak berharap selembar harap. Aku ingin profesional menganalisis semuanya.

Aku percaya, ada sebuah rasa berbeda jika tiba-tiba teman lelaki yang selama ini tak kau pedulikan. Hanya sesekali sapa. Hanya sesekali cerita. Hanya beberapa kali berbagi tawa, tiba-tiba terlihat begitu meng-ingin-i mu. Aneh  kah? Risih kah?
Jujur, aku tak berharap seperti itu.
Ingin semuanya biasa saja. Ingin kau tetap nampak elegan meski ada yang suka. Aku ingin menganggapmu berlebihan, tapi menurut hematku, sebutan itu terlalu kasar untuk perempuan yang dalam keanehannya, aku pernah sesekali merindukannya.

Aku tetap tenang dalam siklusku. Tak terlalu berharap kau tiba-tiba membiasakan diri padaku.
Sore ini aku baru sadar. Tak semua rasa suka itu menyenangkan dan membuat perempuan mabuk kepayang.

Hematku, aku hanya ingin sederhana.
Mencintaimu dengan biasa
Mengagumi dari jarak yang kau tak terganggu karenanya
Menyaksikan senyumanmu yang sebenarnya biasa saja.

Aku menyebutmu, perempuan langit sore. Aku tetap butuh melihatnya, untuk memastikan kehidupan esok berjalan sebagaimana mestinya.

Tapi, aku menyukaimu dengan biasa.

Yogyakarta
@HariniMerdeka

Kamis, 24 Januari 2013

Padam

Aku mengenalnya, hampir separuh usiaku.
Aku memasukkanya dalam golongan manusia tanpa definisi. Ngawuran tapi bisa segala bidang. Menjelma apa saja, kadang pengangguran, kadang profesional, kadang menenangkan tapi lebih sering ngajak tawuran.


Namanya Dian, dalam bahasa jawa artinya lampu atau penerang. Suatu hari dia pernah bercerita, orang-orang yang didekatnya pasti akan merasa aman, karena akan mudah menemukan jalan. Dialah penerang. Aku tertawa saja. Lalu aku berfilosofi juga. Namaku Tirta, dalam bahasa jawa artinya air, penghilang rasa haus dan menyejukkan. Dia tertawa lebih keras dari yang aku bisa.
Kami terbiasa melakukan banyak hal, meski tak sering dan banyak tidak sepaham. Apa saja menjadi bisa, bukannya nyaman memang tidak harus selalu sama?

Aku memiliki apa yang tidak dia mau. Dia mengagumi siapa saja dengan kemampuan yang tidak aku punya. Bukankah sama menyebalkannya? Aku berdamai dengan ragu. Ini sebuah perjalan, yang sedikit banyak dalam 11 tahun terakhir aku dan dia sama-sama melewatinya.

Dalam suatu hari, aku melewati hari bersamanya, yang setelahnya aku tidak menginginkan perempuan itu masuk dalam daftar kehadiran orang-orang dihidupku. Sama sekali.

Sekalipun beda.
Aku laki-laki. Punya kasihan. Punya empati.
Tidak layak bagi seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang 11 tahun aku mengenal melakukan hal itu. Banyak yang tidak benar-benar aku mengenalnya, seluruh bahkan.

Bagiku Ibu, lebih dari pintu surga. Ia segala. Tetapi perempuan itu, melakukan hal yang dalam 11 tahun, aku tidak pernah berpikir sekalipun  ia tega.

Dia, Lampu dari api dan Aku, air.
Bagaimana api jika bertemu air?
Padam.


@HariniMerdeka
Malam di Yogyakarta