Jumat, 25 Januari 2013

Pagi

Aku ingin bercerita tentang pagi, yang mimpi tentangnya aku tepis berkali-kali.

Aku lupa seperti apa rasanya pagi. Aku lupa dingin shubuh. Aku lupa gigil yang berkeruh. Intinya aku lupa pada pagi nan rapi.
Pagi yang tak ada kehidupan, kecuali pada segelintir orang yang masih mengeja nama Tuhan. Aku rindu ternyata. Pada hal yang sebentar saja aku kenal. Pagi beraroma perawan.

Aku tidak ingat berapa kali seperti ini. Aku sedang mengulang jatuh hati pada lelaki yang sama, setiap hari. Laki-laki yang menawan ketika berkumandang adzan. Ya. Di surau kecil itu, suaranya lantang mengundang orang menghadap Tuhan.

Aku deskripsikan sedikit. Ia tidak terlalu tampan, tapi enak dilihat. Langkahnya cepat. Sandalnya selalu sama. Pakai sarung lurik cokelat, baju koko putih dan kopiah hitam. Senyumnya khas, simetris dan ada jeda. Kumis tipi dan jenggot rapi. Kata tetanggaku, dia masuk dalam kategori anatomi laki-laki shalih. Iyakah? Lantas shalih itu yang seperti apa?

Aku menduga laki-laki shalih itu yang setiap hari berkumandang adzan. Tapi tidak juga, aku mendapati muadzin sedang ngomel ketika microfon mushola tiba-tiba mati. Ibuku bilang laki-laki shalih itu tidak merokok, karena merokok meracuni gen yang berarti membodohi keturunan, Ibuku memang guru Biologi yang saklek. Tapi tidak juga, aku mendapati tukang kwetiaw perokok itu memberikan selembar uang seribu kepada ibu tua peminta-minta, "Ini seharga sebatang rokok" katanya sambil menunggu pembeli pertama. Kata teman perempuanku, laki-laki shalih itu yang menyayangi dan menghormati Ibunya. Tapi tidak juga, aku tau kakak tingkatku yang begitu mencintai Ibunya lahir batin itu pernah menggerayangi teman seangkatannya dan ditimggalkan begitu saja, sudah rahasia publik tentang bejatnya. Bukannya mereka tetap sama-sama manusia berlabel Perempuan?

Jadi, shalih bagiku relatif. Tak ada ukuran pasti.
Tidak ada laki-laki yang shalih seluruhnya. Dia bukan malaikat yang dalam jiwa hanya ada kata "iya" pada perintah Tuhannya.

Dan ternyata, yang aku rindukan bukan Pagi.
Bukan Laki-laki.
Tapi pemilik yang menciptakan Pagi dan Laki-laki.

Tak ada yang benar-benar baik kita rindukan, kecuali Tuhan.



@HariniMerdeka
Yogyakarta

Pantas-mu

Sajak-sajak tak bertuan
Aku pungut
Di kembalikan pada hatimu
Kenapa?
Karena tempat segala yang baik
Pantas bersemayam dalam tubuhmu

Rintik hujan yang jatuh
Aku tampung
Di alirkan dalam darahmu
Kenapa?
Karena segala yang sejuk
Pantas berada dalam jiwamu

Desah-desah rindu yang hilang
Aku cari dan simpan
Di ucapkan pada pendengaranmu
Kenapa?
Karena apa-apa yang jujur
Pantas untuk memilihmu

Jejak-jejak perjalananku
Aku rekam
Di mainkan dalam ingatanmu
Kenapa?
Karena semua tentangku
Pantas untuk menemukanmu

Yogyakarta.
@HariniMerdeka

Negeri, Air, Mata.

Tanahnya kau pijak
Kau minum air yang mengalir darinya
Udaranya kau hirup tak habis-habis

Tanahnya menumbuhkan apapun yang kau minta
Kau siram batang pilihan
Kau gerus tulang orang-orang

Kau hebat
Semua menjadi bisa
Semua menjadi biasa

Sebagian orang anggapmu pahlawan
Ada yang anggap pemenang
Tak ada yang anggap pecundang, hanya sebagian

Kau terpelajar
Matamu di persembahkan bagi ilmu pengetahuan
Bagi politik yang membawa kejayaan
Hingga matamu sakit
Tak bisa bedakan uang dengan perjuangan


Negeriku lebih hebat
Menumbuhkan orang-orang dengan hati lapang
Tak akan menuntut jika ditendang
Sekadar untuk bisa makan

Ini Negeriku
Negeri milik kita sendiri
Aku mencintai
Tak
Seperti kau mencintai

@HariniMerdeka
Yogyakarta